Operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran telah menciptakan tantangan keuangan yang signifikan bagi angkatan bersenjata negara tersebut. Hal ini memaksa para pemimpin Angkatan Laut AS untuk mengalihkan dana yang semestinya digunakan untuk membayar gaji prajurit, demi menutupi pengeluaran operasional yang meningkat akibat konflik yang sedang berlangsung.
Berdasarkan laporan dari dokumen internal Pentagon yang dilansir pada 28 Agustus 2026, operasi militer serta pemeliharaan blokade maritim telah menyebabkan pengurasan persediaan amunisi yang parah dan hampir menghabiskan dana yang tersedia bagi Angkatan Laut AS.
Seorang pejabat Angkatan Laut AS menyatakan, “Dana yang seharusnya dialokasikan untuk gaji prajurit telah dipindahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di luar negeri. Kini, mereka berusaha mengisi kembali pos gaji tersebut agar kami dapat menerima pembayaran yang layak.”
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa anggaran Angkatan Laut AS untuk tahun 2026, yang diperkirakan sekitar US$300 miliar (setara dengan Rp5.323 triliun), tidak mencakup biaya yang timbul akibat operasi melawan Teheran.
Sementara itu, harapan untuk mendapatkan persetujuan dari Kongres terhadap paket pendanaan darurat sebesar US$67 miliar (Rp1.188 triliun) yang diajukan oleh Gedung Putih tampaknya cukup kecil.
Sebuah laporan dari Center for Strategic and International Studies yang dirilis pada April 2026 mengungkapkan bahwa AS berpotensi menghadapi kekurangan serius dalam pasokan rudal berpemandu presisi, akibat terkurasnya stok persenjataan yang tersedia untuk konfrontasi berskala besar di masa mendatang.
Di sisi lain, Wakil Menteri Perminyakan Iran, Ahmad Zeraatkar, menginformasikan bahwa Teheran telah berhasil memulihkan sekitar 40 persen dari kapasitas produksi yang mengalami kerusakan di ladang minyak dan gas South Pars.
Zeraatkar dalam wawancara dengan kantor berita Fars menyatakan, “Kami dapat mengatakan bahwa kami telah berhasil memulihkan sekitar 40 persen kapasitas yang terdampak.”
Fasilitas di South Pars menjadi sasaran serangan oleh AS dan Israel selama peningkatan ketegangan yang terjadi pada Maret 2026. Pada bulan Mei, pihak berwenang Iran mengungkapkan bahwa mereka telah menyusun rencana untuk memulihkan dan mempermodernisasi infrastruktur yang terdampak, dengan target penyelesaian dalam waktu maksimum dua tahun.
Diperkirakan sekitar 50 persen dari pekerjaan pemulihan fasilitas South Pars akan rampung pada musim dingin 2027. Zeraatkar menambahkan bahwa infrastruktur tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah dan pemulihan kapasitas secara penuh akan memerlukan waktu setidaknya dua tahun lagi.
➡️ Baca Juga: Ahmad Sahroni Minta Netizen Beri Kritik Terkait Perubahan Istri yang Mencolok
➡️ Baca Juga: OpenAI Luncurkan GPT-5.6 dan ChatGPT Work untuk Tingkatkan Persaingan dengan Anthropic
