Ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) semakin mengkhawatirkan, dengan pemerintah kini berupaya mempercepat pengembangan dimethyl ether (DME) sebagai sumber alternatif untuk bahan bakar rumah tangga. Saat ini, konsumsi LPG di tanah air mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, dan sekitar 75 persen dari total kebutuhan ini masih bergantung pada impor.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia diperkirakan mengeluarkan sekitar US$3,8 miliar atau setara dengan Rp64,1 triliun untuk impor LPG pada tahun 2024. Ketergantungan yang tinggi ini membuat pasokan LPG domestik sangat rentan terhadap fluktuasi pasar energi global, yang dapat berdampak signifikan pada stabilitas harga dan ketersediaan.
Pengembangan DME telah tercatat sebagai salah satu proyek prioritas dalam agenda hilirisasi nasional, dengan rencana untuk memulai implementasinya pada tahun ini. Proyek ini akan dikoordinasikan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi negara.
Dalam pelaksanaan proyek ini, MIND ID bekerja sama dengan Pertamina untuk mempercepat proses hilirisasi batu bara menjadi berbagai produk energi alternatif, termasuk Synthetic Natural Gas (SNG), Dimethyl Ether (DME), dan metanol. Pertamina akan berperan sebagai offtaker sekaligus pengelola infrastruktur distribusi, memastikan produk-produk hasil hilirisasi dapat tersalurkan dengan baik ke masyarakat dan sektor industri.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menilai bahwa pengembangan DME adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Bambang mengingatkan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat mengganggu distribusi minyak dan gas dari wilayah Teluk Persia, yang melintasi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Saat ini, Amerika Serikat menjadi penyedia utama LPG bagi Indonesia, dengan kontribusi sekitar US$2,03 miliar atau 53 persen dari total impor. Sementara itu, Qatar menyuplai sekitar 11 persen dan Uni Emirat Arab berkontribusi sekitar 10 persen.
“Situasi geopolitik yang memburuk di Timur Tengah, yang mengancam pasokan minyak dan gas dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz, memperkuat alasan untuk melakukan hilirisasi batu bara menjadi DME,” tutur Bambang dalam pernyataannya pada Selasa, 10 Maret 2026.
Ia juga menambahkan bahwa pengembangan DME berpotensi membuka pasar baru bagi batu bara berkalori rendah. Indonesia memiliki sumber daya batu bara yang melimpah, sekitar 97,96 miliar ton, dengan cadangan mencapai 31,95 miliar ton. Sebagian besar dari cadangan ini adalah batu bara berkalori rendah yang selama ini memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah di pasar ekspor.
➡️ Baca Juga: Kegiatan Olahraga Bersama di Komunitas, Meningkatkan Kesehatan
➡️ Baca Juga: Perusahaan Keluarga Bupati Pekalongan Raih Rp46 M dalam Tiga Tahun, KPK Mengungkap Fakta Ini
