Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada awal pekan ini, tepatnya pada Senin, 9 Maret 2026. Penurunan ini terjadi di tengah merosotnya optimisme pasar terkait keputusan Federal Reserve (The Fed) yang tidak akan mengurangi suku bunga acuan.
Di pasar spot, harga emas tercatat turun sebesar 1,5 persen, menjadi US$5.091,02 per ons, setara dengan sekitar Rp 85,94 juta (dengan estimasi kurs Rp 16.880 per dolar AS) pada pukul 02.33 GMT. Sebelumnya, harga emas bahkan sempat merosot lebih dari 2 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka emas di Amerika Serikat untuk pengiriman bulan April juga mengalami penurunan sebesar 1,2 persen, mencapai US$5.097,40 per ons. Tekanan pada harga emas ini disebabkan oleh penguatan dolar AS, yang mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir.
Selain emas, berbagai logam mulia lainnya juga menunjukkan penurunan harga. Perak spot tercatat turun 1,5 persen menjadi US$83,09 per ons, platinum melemah 1,1 persen menjadi US$2.111,04, dan palladium turun 1,4 persen menjadi US$1.603,25 per ons.
“Emas saat ini berada dalam posisi yang tertekan meskipun pasar mengalami volatilitas. Lonjakan harga minyak yang mencapai angka tiga digit telah memperkuat dolar AS, menyusul kekhawatiran inflasi serta berkurangnya ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga,” ungkap Tim Waterer, Analis Kepala KCM Trade, yang dikutip dari Yahoo Finance, Selasa, 10 Maret 2026.
Kenaikan harga energi ini menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi perubahan sentimen pasar. Harga minyak mentah dilaporkan meningkat lebih dari 20 persen, melampaui US$110 per barel, seiring dengan konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pada pasokan energi global.
Waterer menambahkan bahwa lonjakan harga emas dalam setahun terakhir banyak dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mulai memangkas suku bunga. Dengan meredanya keyakinan terhadap langkah tersebut, tekanan terhadap harga emas menjadi semakin kuat.
“Sebagian besar kenaikan harga emas selama dua belas bulan terakhir didasarkan pada pandangan dovish terhadap suku bunga AS. Namun, dengan risiko inflasi akibat harga minyak yang berada di atas US$100 per barel, pemangkasan suku bunga tidak lagi menjadi kepastian, sehingga harga emas harus menyesuaikan diri kembali,” jelasnya.
Para pelaku pasar kini memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan yang berlangsung selama dua hari, yang dijadwalkan berakhir pada 18 Maret 2026. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, kemungkinan bank sentral AS mempertahankan suku bunga hingga bulan Juni meningkat menjadi lebih dari 51 persen, naik dari angka di bawah 43 persen yang tercatat pada pekan lalu.
➡️ Baca Juga: Disebut Tak Seramah di Media Sosial, Jerome Polin: Saya Minta Maaf
➡️ Baca Juga: Test Kamera iPhone 16 Pro: Apakah Masih yang Terbaik untuk Video Vlogging?
