IHSG Turun ke 7.362 di Penutupan, Ketegangan AS–Iran Masih Menekan Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan dan berakhir di zona merah setelah mengalami pergerakan yang tidak stabil. Pada penutupan perdagangan hari Kamis, 12 Maret 2026, IHSG jatuh sebesar 0,37 persen atau 27,28 poin, mencapai level 7.362,11.
Total nilai transaksi yang tercatat pada hari itu mencapai Rp 13,39 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 24,34 juta. Terjadi pula sebanyak 1,54 juta transaksi selama periode tersebut.
Sektor konsumer siklikal mencatatkan penurunan paling tajam dengan angka 2,04 persen. Selain itu, sektor bahan baku juga mengalami koreksi sebesar 1,44 persen, sementara sektor properti mengalami penurunan sebesar 1,38 persen.
Di sisi lain, sektor transportasi menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sebesar 1,26 persen. Sektor teknologi juga mencatatkan peningkatan sebesar 0,91 persen, meskipun sektor keuangan hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,03 persen.
Tim Analis dari Phintraco Sekuritas mengidentifikasi bahwa sentimen negatif yang mempengaruhi pasar sebagian besar dipicu oleh ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Konflik ini telah menyebabkan harga minyak mentah kembali mengalami lonjakan. Pada hari yang sama, laporan mengenai serangan terhadap beberapa kapal tanker di wilayah Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak.
Laporan tersebut muncul setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah terbesar dalam sejarahnya. Langkah ini menunjukkan bahwa belum ada indikasi penurunan ketegangan di Teluk Persia, yang mengakibatkan harga minyak tetap tinggi seiring dengan gangguan aliran minyak di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi inflasi serta kemungkinan meluasnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan juga neraca perdagangan migas yang terancam defisit. Hal ini diungkapkan oleh Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam laporan harian mereka pada 12 Maret 2026.
Keputusan IEA untuk melakukan pelepasan cadangan minyak dianggap memberikan sinyal bahwa risiko gangguan pasokan minyak global masih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lembaga internasional meragukan kemungkinan berakhirnya konflik dengan cepat.
Tim Analis Phintraco Sekuritas juga menambahkan bahwa ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai kapan konflik ini akan berakhir semakin meningkatkan risiko dampak inflasi dan perlambatan ekonomi di tingkat global.
Dari perspektif teknikal, para analis memperkirakan bahwa IHSG akan cenderung bergerak sideways menjelang libur panjang yang akan datang.
Meskipun IHSG mengalami penurunan, beberapa emiten masih berhasil mencatat lonjakan harga yang signifikan di antara 45 saham unggulan (LQ45).
➡️ Baca Juga: Kegiatan Olahraga Bersama di Komunitas, Meningkatkan Kesehatan
➡️ Baca Juga: Mengenal Pendidikan Hybrid: Gabungan Daring & Luring




