Mojtaba Khamenei Dilantik Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Secara Resmi

Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, telah resmi terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Keputusan ini diumumkan oleh anggota badan ulama yang memiliki tanggung jawab untuk memilih otoritas tertinggi negara itu pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Mereka menyerukan kepada seluruh rakyat Iran untuk bersatu di belakang kepemimpinan baru ini demi menjaga persatuan nasional.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan oleh media pemerintah pada hari Senin, majelis tersebut menyebut bahwa Mojtaba Khamenei terpilih melalui proses yang disebut sebagai “pemungutan suara yang menentukan”.

Badan ulama tersebut juga mengimbau warga di seluruh Iran, terutama para elit dan intelektual dari kalangan seminari dan universitas, untuk menunjukkan loyalitas mereka kepada pemimpin baru dan menjaga persatuan di tengah situasi kritis yang dihadapi negara ini.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei disambut dengan positif oleh kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang dikenal sebagai sekutu rezim Iran.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui Telegram, mereka mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, kepemimpinannya, serta rakyatnya atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi pada momen yang sangat penting ini.

Pernyataan itu menganggap pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai “kemenangan baru bagi Revolusi Islam” dan sebuah pukulan telak bagi para musuh Republik Islam serta negara Iran itu sendiri.

Namun, langkah ini berpotensi memicu eskalasi perang yang lebih lanjut, terutama setelah Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei adalah penerus paling mungkin dan menolak pengakuan terhadapnya.

Pengangkatan ini juga menandai peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak revolusi Islam 1979, kepemimpinan tertinggi Iran berpindah dari ayah ke anak. Hal ini dapat memicu perdebatan di dalam Iran mengenai munculnya sistem dinasti, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang mendasari revolusi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan turun-temurun era Shah.

Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin selama 37 tahun, meninggal dunia akibat serangan yang diluncurkan oleh AS-Israel di Teheran pada tanggal 28 Februari, yang juga merupakan hari pertama perang dengan Iran.

Di berbagai institusi politik dan keamanan Iran, para pejabat cepat-cepat menyatakan dukungan mereka terhadap Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru.

Media pemerintah melaporkan bahwa pimpinan angkatan bersenjata Iran telah berikrar setia kepadanya. Sementara itu, ketua parlemen memberikan pujian terhadap keputusan ini dan menyatakan bahwa mengikuti Mojtaba Khamenei merupakan “tugas agama dan nasional” bagi seluruh rakyat Iran.

➡️ Baca Juga: Inovasi Lingkungan: Apa yang Membuatnya Begitu Spesial?

➡️ Baca Juga: Kondisi Kesehatan Bayi yang Ditinggalkan di Gerobak Nasi Uduk oleh Kakaknya

Exit mobile version