Pemandu kapal yang bertugas mengantar lima jurnalis untuk meliput di sekitar Gunung Anak Krakatau melakukan komunikasi terakhir dengan keluarganya sebelum hilang kontak. Dalam kesempatan itu, ia bahkan mengirimkan foto yang memperlihatkan kondisi Gunung Anak Krakatau kepada istrinya.
Keterangan ini disampaikan oleh Sandi Wyasa, pemilik kapal, saat menjelaskan urutan kejadian komunikasi terakhir yang dilakukan oleh pemandu. Foto tersebut dikirimkan beberapa jam setelah kapal berangkat dari pelabuhan.
Sandi menjelaskan bahwa perjalanan menuju kawasan Krakatau biasanya memakan waktu sekitar dua jam. Namun, informasi terakhir yang diterimanya menunjukkan bahwa pemandu masih bisa menghubungi istrinya pada pukul 18.13 WIB.
“Biasanya, untuk mencapai Krakatau itu memerlukan waktu sekitar dua jam. Kontak terakhir dari pemandu yang mengantar jurnalis itu terjadi saat ia menghubungi istrinya dan mengirim foto pada pukul 18.13,” ujar Sandi yang dikutip dari sumber video pada Rabu, 9 September 2026.
Kapal diketahui berangkat sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan begitu, terdapat jeda waktu sekitar empat jam antara keberangkatan kapal dan komunikasi terakhir pemandu dengan keluarganya.
Foto yang dikirim kepada keluarga bukanlah foto pribadi, melainkan menunjukkan keadaan Gunung Anak Krakatau. Ini mengindikasikan bahwa rombongan kapal sudah berada di sekitar area gunung berapi saat komunikasi terjadi.
“Fotonya menunjukkan kondisi Krakatau, Pak,” jelas Sandi.
Saat ditanya apakah foto tersebut menunjukkan bahwa kapal sudah dekat dengan Gunung Anak Krakatau, Sandi mengonfirmasi hal tersebut. Namun, ia juga menyebutkan bahwa jaraknya masih cukup jauh dari gunung tersebut.
“Ya, benar, Pak. Dari foto itu terlihat cukup jauh,” ujarnya.
Menurut Sandi, lokasi kapal dalam foto itu diperkirakan berada lebih dari tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
“Lebih dari tiga kilometer, Pak,” kata Sandi.
Jarak tersebut sangat penting, mengingat ada anjuran bagi masyarakat untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah. Dengan demikian, foto yang dikirim oleh pemandu menjadi salah satu informasi terakhir mengenai keadaan rombongan sebelum komunikasi terputus.
Sandi juga menambahkan bahwa keluarga pemandu hanya menerima satu foto dari komunikasi terakhir itu. Tidak ada foto lain yang diketahui diterima oleh keluarga setelahnya.
➡️ Baca Juga: Pengelolaan Energi Terbarukan di Desa Nusa Tenggara
➡️ Baca Juga: Ulasan Jam Tangan Militer Tahan Banting dan Tahan Air Garam yang Terpercaya
