PT PLN (Persero) terus berupaya untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pentingnya budaya aman berlistrik, terutama di era digital, melalui aplikasi PLN Mobile.
Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali), melalui Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (UP2B Bali). Ratusan siswa dari SMK Negeri 1 Denpasar dilibatkan dalam kegiatan yang bertajuk ‘Mewujudkan Budaya Aman Berlistrik di Era Digital Bersama PLN Mobile’.
General Manager PLN UIP2B Jamali, Munawwar Furqan, menyatakan bahwa sosialisasi ini merupakan langkah penting untuk mendorong kesadaran di kalangan generasi muda agar bisa berkontribusi dalam mencegah berbagai potensi gangguan kelistrikan. Hal ini diungkapkannya dalam keterangan resmi pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memanfaatkan teknologi digital dalam melaporkan kondisi yang berpotensi membahayakan jaringan listrik.
Munawwar menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari semangat kebersamaan dalam menyambut momentum kemerdekaan, dengan fokus pada edukasi dan kepedulian terhadap keselamatan serta keandalan sistem kelistrikan.
Acara tersebut dihadiri oleh Koordinator Pengawas Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali, I Wayan Suwira; Kepala SMK Negeri 1 Denpasar, I Wayan Mustika; serta Manager PLN UP2B Bali, Komang Teddy Indra Kusuma.
Dalam kesempatan tersebut, Munawwar menjelaskan bahwa PLN Mobile berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan PLN. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk melaporkan berbagai potensi bahaya yang dapat mengganggu jaringan listrik.
“Jika potensi gangguan dapat terdeteksi lebih awal, maka penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat. Karena itu, kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berpartisipasi dalam menjaga keselamatan dan keandalan sistem kelistrikan,” ucapnya.
Manager PLN UP2B Bali, Komang Teddy Indra Kusuma, menambahkan bahwa dalam sosialisasi ini, para siswa diberikan penjelasan mengenai berbagai potensi gangguan yang mungkin terjadi di sekitar jaringan listrik.
Misalnya, potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pohon yang tumbuh terlalu dekat dengan jaringan listrik, bangunan yang melanggar jarak aman, serta aktivitas bermain layang-layang di sekitar saluran listrik.
Selain memahami risiko yang ada, para siswa juga diperkenalkan dengan PLN Mobile sebagai alat untuk memperoleh layanan kelistrikan dan melaporkan potensi bahaya agar dapat segera direspon oleh petugas PLN.
Para siswa diajak untuk menjadi agen perubahan dengan menyebarluaskan pengetahuan yang mereka peroleh kepada keluarga dan masyarakat di sekitar mereka. Dengan demikian, diharapkan edukasi mengenai keselamatan dalam kelistrikan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga dapat berkembang menjadi kesadaran kolektif dalam kehidupan sehari-hari.
➡️ Baca Juga: Perbandingan Harga Yamaha MX King Baru dan Bekas untuk Keputusan yang Cerdas
➡️ Baca Juga: 5 Pilihan Laptop Terjangkau dengan Port Thunderbolt 4 di Pasaran Saat Ini
