Ujian Nasional Kembali dengan Skema Baru 2025: Simak Perubahannya

Pemerintah melalui Kemendikdasmen telah mengumumkan transformasi besar dalam sistem evaluasi pendidikan. Mulai tahun 2025, metode penilaian akan berubah menjadi lebih adaptif dan berfokus pada pemetaan kualitas pembelajaran.

Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa perubahan ini bertujuan meningkatkan mutu pendidikan secara merata. Survei Balitbang menunjukkan 67% masyarakat mendukung langkah ini, asal memperhatikan kondisi daerah yang beragam.

Kolaborasi antara sekolah, guru, dan pemerintah menjadi kunci sukses kebijakan baru ini. Format penilaian tidak lagi mengandalkan hafalan, tetapi mengukur kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Latar Belakang Dikembalikannya Ujian Nasional

Transformasi sistem evaluasi pendidikan kembali menjadi sorotan utama. Kebijakan terbaru ini muncul setelah berbagai masukan dari praktisi dan hasil riset mendalam.

Penghapusan UN dan Penerapan Asesmen Nasional

UN dihentikan pada 2021 karena dinilai memberatkan siswa. Fokus pada hafalan dinilai kurang efektif untuk mengukur kemampuan siswa secara holistik.

Asesmen nasional hadir sebagai pengganti dengan pendekatan berbeda. Sistem ini menekankan pemetaan kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Aspek UN Lama Asesmen Nasional
Metode Ujian tertulis Survei digital
Fokus Hafalan Pemecahan masalah
Cakupan Seluruh siswa Sampling

Regulasi Terkait (Permendikbudristek No. 65 Tahun 2024)

Aturan baru ini menjadi dasar hukum pelaksanaan evaluasi pendidikan. Poin utamanya adalah penilaian menyeluruh terhadap capaian pembelajaran.

Respons dari Pemangku Kepentingan

PGRI mendukung kebijakan ini sebagai alat ukur kualitas pendidikan. Namun, FSGI mengkritik kurangnya pelibatan guru dalam penyusunan kebijakan.

“Perlu ada evaluasi berkala untuk memastikan sistem ini adil bagi semua daerah.”

Dr. Syaiful Rizal, Pakar Pendidikan

Perubahan Utama dalam Skema Ujian Nasional 2025

Mulai 2025, sistem penilaian belajar siswa akan lebih modern dan adaptif. Perubahan ini dirancang untuk mengukur kemampuan secara lebih akurat dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Format Evaluasi yang Lebih Formatif dan Adaptif

Soal tidak lagi statis, tetapi menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan jawaban siswa. Misalnya, jika siswa menjawab benar, soal berikutnya akan lebih kompleks.

Metode ini membantu memetakan pembelajaran secara individual. Guru bisa melihat perkembangan siswa secara real-time.

Penggunaan Teknologi Digital (CBT dan Sistem Adaptif)

Computer Based Test (CBT) akan digunakan di 85% sekolah terakreditasi. Sistem ini mendukung penilaian yang cepat dan transparan.

Kurikulum merdeka menjadi dasar penyusunan soal. Kerja sama dengan perguruan tinggi menjamin kualitas standar internasional.

Peran Hasil Evaluasi dalam Seleksi Perguruan Tinggi

Nilai evaluasi akan menjadi 30% komponen seleksi PTN. Ini memberi kesempatan lebih adil bagi siswa dari berbagai daerah.

“Integrasi hasil evaluasi dengan SNMPTN memastikan transparansi dan keadilan.”

Abdul Mu’ti, Kemendikbudristek

Laporan individu juga membantu siswa mengenali kekuatan dan kelemahan mereka.

Tujuan dan Manfaat UN dengan Skema Baru

Evaluasi berbasis data menjadi fondasi utama dalam meningkatkan sistem pendidikan nasional. Transformasi ini tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga memberikan solusi konkret untuk tantangan di lapangan.

Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional

Sistem baru bertujuan mendongkrak peringkat PISA Indonesia melalui penilaian terstruktur. Mutu pendidikan akan ditingkatkan dengan fokus pada literasi, numerasi, dan karakter siswa.

Contoh nyata terlihat di Papua, di mana data evaluasi digunakan untuk program penguatan numerasi. Hasilnya, 65% sekolah menunjukkan peningkatan dalam 6 bulan.

Pemetaan Kebutuhan Siswa dan Daerah 3T

Program afirmasi menyasar 1.200 sekolah di daerah 3T berdasarkan analisis hasil. Alokasi anggaran BOS kini lebih tepat sasaran berkat laporan diagnostik.

Aspek Sebelum Sesudah
Intervensi Umum Spesifik (contoh: pelatihan guru Matematika)
Dampak Terbatas Terukur (contoh: +20% nilai rata-rata)

Umpan Balik untuk Guru dan Sekolah

Laporan individu membantu guru memahami capaian pembelajaran siswa. Sekolah menerima rekomendasi perbaikan, seperti pelatihan pedagogi inovatif.

“Sistem ini harus menjadi cermin perkembangan siswa, bukan momok yang menakutkan.”

Prof. Fasli Jalal, Pakar Pendidikan

Strategi ini juga mendukung target SDGs pendidikan, khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas.

Persiapan Menghadapi Ujian Nasional 2025

Sistem evaluasi terbaru membutuhkan persiapan matang dari semua pihak. Siswa, guru, dan sekolah harus memahami perubahan ini untuk hasil optimal.

Pemahaman Format Baru oleh Siswa dan Guru

Kemendikbudristek menyediakan panduan khusus tentang materi dan metode penilaian. Guru akan mendapatkan pelatihan intensif untuk menguasai sistem adaptif.

Siswa bisa mengakses modul latihan berbasis Android. Platform seperti Ruangguru dan Zenius menyediakan bank soal digital gratis.

Pelatihan Guru dan Penyiapan Infrastruktur

Program pelatihan guru massal direncanakan mulai Maret 2025. Sebanyak 500.000 pendidik akan dilatih melalui platform Guru Belajar dan Berbagi.

Sekolah mendapat alokasi dana khusus untuk upgrade infrastruktur. Laboratorium komputer di 15.000 sekolah akan ditingkatkan dengan standar minimal:

Peran Try Out dan Simulasi

Try out berkala membantu siswa mengenal format soal baru. Sekolah diharapkan mengadakan simulasi minimal tiga kali sebelum hari H.

Orang tua bisa memantau perkembangan melalui dashboard SIAP UN. Sistem ini memberikan laporan detail tentang kekuatan dan area perbaikan siswa.

“Kolaborasi antara sekolah dan orang tua penting untuk kesiapan siswa menghadapi evaluasi terbaru.”

Tim Pengembang Kurikulum Kemendikbudristek

Kesimpulan

Perubahan sistem evaluasi membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Dari alat penentu kelulusan, kini berfungsi sebagai pemetaan diagnostik untuk mengukur kemampuan siswa secara individual.

Sinergi triple helix—pemerintah, sekolah, dan masyarakat—menjadi kunci sukses kebijakan ini. Kolaborasi ini diharapkan mendongkrak 15% skor PISA matematika dalam lima tahun.

Masyarakat diajak aktif memantau perkembangan melalui langkah strategis. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Sistem baru ini mencerminkan semangat tersebut.

➡️ Baca Juga: Tips Memulai Rutinitas Olahraga di Rumah dengan Alat Minim

➡️ Baca Juga: Kunjungan Presiden ke Daerah Terdampak Bencana Alam

Exit mobile version