Di dunia otomotif saat ini, sebuah perubahan signifikan tengah terjadi, terutama di Jerman. Mobil listrik kini mendapatkan popularitas yang mengesankan, bahkan berhasil mengungguli mobil berbahan bakar bensin di negara ini. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mulai beralih ke solusi yang lebih ramah lingkungan dalam berkendara.
Data terbaru memperlihatkan bahwa pasar mobil listrik (EV) di Jerman mengalami kebangkitan yang kuat, hanya beberapa bulan setelah mengalami penurunan yang cukup tajam. Pada Maret 2026, penjualan mobil listrik telah melampaui penjualan mobil bertenaga bensin dan diesel di negara yang menjadi pusat otomotif Eropa ini.
Selama bulan Maret, tercatat sebanyak 294.161 kendaraan baru terdaftar, meningkat sekitar 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dari total tersebut, sekitar 24 persen atau sekitar 70.663 unit merupakan mobil listrik berbaterai, menjadikannya sebagai segmen yang paling diminati dibandingkan mobil bensin (22,8 persen) dan diesel (12,8 persen).
Kenaikan yang signifikan ini menjadi sorotan, terutama jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana penjualan mobil listrik mengalami penurunan tajam akibat pencabutan insentif pemerintah. Namun, dengan adanya insentif baru, minat konsumen terhadap mobil listrik kembali meningkat dengan pesat.
Salah satu pendorong utama dari kebangkitan ini adalah kebijakan subsidi yang kembali diterapkan pemerintah mulai 1 Januari 2026. Di bawah kebijakan ini, mobil listrik terbaru kini bebas dari pajak kendaraan bermotor hingga 31 Desember 2035, dan ditambah dengan subsidi antara €3.000 hingga €6.000, atau sekitar Rp59 juta hingga Rp115 juta, bagi pembeli dengan penghasilan rendah.
Model lain seperti plug-in hybrid juga mendapatkan subsidi yang cukup menarik, mencapai sekitar €4.500 atau sekitar Rp89 juta. Kebijakan ini dirancang untuk membuat mobil listrik lebih terjangkau dan semakin menarik bagi konsumen.
Tak hanya produsen otomotif asal Jerman seperti Audi, BMW, dan Opel yang merasakan pertumbuhan, tetapi juga pabrikan dari China yang menunjukkan hasil yang sangat positif. Contohnya, BYD mencatat penjualan mencapai 3.438 unit, yang merupakan peningkatan lebih dari 327 persen dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, Leapmotor dan Tesla masing-masing mengalami kenaikan penjualan lebih dari 318 persen dan 315 persen. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan di pasar EV di Jerman semakin ketat, dengan merek-merek dari luar Eropa berhasil mendapatkan pangsa pasar yang signifikan.
Secara keseluruhan, untuk periode Januari hingga Maret 2026, penjualan mobil listrik meningkat sekitar 41,3 persen dibandingkan kuartal pertama 2025. Ratusan ribu kendaraan baru kini beroperasi tanpa emisi, menggambarkan momentum baru dalam transisi energi di sektor otomotif di Jerman.
➡️ Baca Juga: Ubed Dominasi BAC 2026, Raih Kemenangan Gemilang Tanpa Kehilangan Gim
➡️ Baca Juga: Beasiswa S1 Teknologi Pangan 2025: Dukung Ketahanan Pangan
