PISAgro Mendorong Petani Menjadi Penggerak Transformasi Sistem Pangan Berkelanjutan

Penguatan peran petani dinilai sebagai aspek krusial dalam mendorong transformasi sistem pangan di Indonesia. Hal ini menjadi fokus perhatian Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro), yang berupaya mengembangkan model kemitraan inklusif tertutup yang menghubungkan petani dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan, penyedia input, lembaga keuangan, hingga pembeli hasil pertanian.

Model kemitraan yang dikembangkan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga berupaya untuk memperkuat pendapatan serta kemampuan petani dalam menerapkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan yang menyeluruh, PISAgro berharap dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sejak didirikan pada tahun 2012, PISAgro telah berhasil menjangkau sekitar 2,8 juta petani melalui berbagai kelompok kerja yang dibentuk. Ke depan, organisasi ini menargetkan untuk memperluas jangkauannya sehingga dapat melayani puluhan juta petani kecil lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Franky Oesman Widjaja, Co-Chair PISAgro, menegaskan bahwa pendekatan yang diambil oleh PISAgro bukan sekadar kegiatan filantropi. Model kemitraan ini dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi semua pihak yang terlibat, menciptakan sinergi yang saling menguntungkan.

Sebagai contoh, dalam rantai pasok susu, perusahaan membutuhkan pasokan susu yang berkualitas, sementara petani mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh industri. Kerja sama ini menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

Franky menekankan bahwa pola kemitraan ini mencerminkan prinsip win-win, yang menjadi salah satu kunci keberhasilan PISAgro. Dengan saling menguntungkan, semua pihak dapat merasakan manfaat dari kemitraan yang terjalin.

“Ini bukanlah program filantropi, melainkan kolaborasi ekonomi yang saling menguntungkan,” jelas Franky saat berbincang dengan awak media di Jakarta Pusat pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Dalam model ini, perusahaan mendapatkan pasokan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sementara petani memperoleh pengetahuan, akses terhadap sarana produksi, dan kepastian pasar untuk hasil pertanian yang mereka kelola. Hal ini menciptakan sebuah siklus yang berkelanjutan.

Franky menilai bahwa pendekatan semacam ini lebih berkelanjutan dibandingkan dengan filantropi, karena di dalamnya terdapat kepentingan ekonomi yang saling berkaitan. “Filantropi sering kali tidak bertahan lama; sedangkan model ini mengedepankan saling ketergantungan dan keuntungan bersama,” tuturnya.

PISAgro terus berupaya agar model kemitraan ini dapat diterapkan lebih luas di berbagai wilayah dan sektor komoditas. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta jaringan pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

Salah satu inisiatif yang disebutkan adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR). Melalui dukungan dan peningkatan produktivitas, pola kemitraan yang diterapkan diharapkan dapat membantu petani dalam meningkatkan hasil pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lahan yang mereka kelola.

➡️ Baca Juga: Surfing di Bali: Petualangan Seru di Pulau Dewata

➡️ Baca Juga: AS Hadapi Kesulitan Pendanaan: Gaji Prajurit Digunakan untuk Menutupi Biaya Perang Melawan Iran

Exit mobile version