Suyudi Ario Seto: Momen Penting Saat Memimpin BNN dan Menangkap Buronan Interpol

Komjen Pol Suyudi Ario Seto kini bersiap memasuki fase baru dalam kariernya sebagai Kapolri, menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Setelah menyelesaikan uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Suyudi telah mendapatkan persetujuan untuk menduduki jabatan tersebut. Ketua DPR RI, Puan Maharani, mengungkapkan bahwa pelantikan Suyudi oleh Presiden Prabowo Subianto akan dilaksanakan setelah waktu zuhur pada hari Kamis, 1 Oktober 2026.
Sebelum terpilih sebagai calon Kapolri, Suyudi Ario Seto lebih dikenal karena perannya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia. Ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2025 untuk menggantikan Marthinus Hukom dalam memimpin lembaga yang bertugas dalam pencegahan dan pemberantasan narkotika.
Selama masa kepemimpinannya di BNN, Suyudi terlibat aktif dalam berbagai operasi penindakan narkotika, termasuk pengungkapan jaringan penyelundupan narkoba yang melibatkan beberapa negara. Upaya ini adalah bagian dari komitmennya untuk memberantas peredaran narkotika di Indonesia.
Salah satu kasus yang menonjol pada masa kepemimpinan Suyudi di BNN adalah penangkapan Dewi Astutik, yang dikenal juga sebagai Mami, seorang buronan internasional yang berhasil ditangkap di Sihanoukville, Kamboja. Penangkapan ini menjadi sorotan karena melibatkan kerjasama lintas negara dalam penegakan hukum.
Dewi Astutik diduga merupakan otak dari jaringan penyelundupan narkotika yang berusaha memasukkan sekitar dua ton sabu ke Indonesia. Penangkapan ini merupakan hasil dari kerjasama antara BNN dan berbagai pihak terkait, termasuk Kepolisian Kamboja, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, BAIS TNI, serta Bea dan Cukai.
Operasi penangkapan dilakukan setelah Suyudi mengeluarkan instruksi untuk membentuk tim khusus yang bertugas mengejar buronan tersebut. Dewi Astutik ditangkap ketika sedang menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville, yang menunjukkan betapa seriusnya upaya penegakan hukum dalam kasus ini.
BNN juga mencatat bahwa Dewi Astutik merupakan buronan dari pihak berwenang Korea Selatan. Setelah ditangkap, ia dibawa ke Phnom Penh untuk menjalani proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi kepada otoritas yang berwenang.
Kasus Dewi Astutik berkaitan erat dengan pengungkapan jaringan penyelundupan narkotika dalam skala besar. BNN melaporkan bahwa dua ton sabu yang berhasil disita berasal dari jaringan Golden Triangle dan sudah berusaha masuk ke Indonesia sejak Mei 2025.
Jumlah barang bukti yang sangat besar ini menjadikan kasus ini sebagai salah satu pengungkapan narkotika yang paling diperhatikan. BNN memperkirakan bahwa sabu yang disita tersebut dapat menyelamatkan sekitar delapan juta jiwa, berdasarkan perhitungan standar penyalahgunaan narkoba.
Selain fokus pada penindakan, Suyudi juga mengedepankan agenda kerja sama dengan lembaga penegak hukum negara lain. Salah satu bentuk kolaborasi yang dilakukan adalah bersama Malaysia untuk menangani peredaran narkotika yang bersifat lintas negara, menunjukkan komitmennya dalam menghadapi ancaman global terkait penyalahgunaan narkoba.
➡️ Baca Juga: Media Inggris Bandingkan Jay Idzes dengan Bek Rp1 Triliun dari Nottingham Forest
➡️ Baca Juga: Pelatih Souto Evaluasi Performa Pemain Baru Timnas Futsal Indonesia Usai Kalahkan Australia




