happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

depo 10k depo 10k
lifestyle

Terapi Pengelolaan Berat Badan dan Kesehatan Jantung pada Hari Jantung Sedunia 2026

Penyakit kardiovaskular tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia, berkontribusi hampir satu dari setiap tiga kematian. Obesitas berperan penting dalam meningkatkan risiko penyakit jantung, dengan sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular secara global berhubungan langsung dengan obesitas.

Menjelang Hari Jantung Sedunia 2026 yang mengusung tema “Don’t Miss a Beat”, sebuah diskusi media yang bertajuk “World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health” diselenggarakan oleh Novo Indonesia.

“Tujuan kami adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang keterkaitan antara obesitas dan risiko kardiovaskular, serta pilihan dukungan medis yang tersedia, seperti konsultasi dengan dokter dan terapi berbasis GLP-1 RA yang harus dilakukan sesuai indikasi dan dalam pengawasan medis,” jelas dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dalam pernyataannya pada hari Senin, 28 September 2026.

Dia menambahkan bahwa hubungan antara obesitas dan kesehatan jantung lebih rumit dari sekadar angka yang ditunjukkan oleh timbangan. Obesitas dapat memengaruhi banyak fungsi tubuh dan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

Sebuah studi di Indonesia menunjukkan bahwa individu dengan obesitas memiliki kemungkinan 85 persen lebih tinggi untuk mengalami risiko penyakit kardiovaskular dalam dekade ke depan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan menangani obesitas sedini mungkin demi menjaga kesehatan jantung.

“Momentum Hari Jantung Sedunia adalah saat yang tepat bagi kita untuk memandang kesehatan jantung secara lebih holistik, termasuk memahami bagaimana obesitas dapat meningkatkan risiko kardiovaskular,” ungkap Riyanny.

Dia juga menekankan bahwa obesitas seharusnya tidak dipandang hanya sebagai masalah berat badan atau pilihan individu, melainkan sebagai penyakit kronis yang rumit dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biologis hingga lingkungan. Oleh sebab itu, penanganan terhadap obesitas memerlukan pendekatan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.

“Melalui kesempatan ini, kami ingin mendorong lebih banyak orang untuk memahami risiko yang ada, tidak ragu untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan, dan mendapatkan pengelolaan yang sesuai,” tambahnya.

Senada dengan pernyataan tersebut, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, menegaskan bahwa obesitas bukan sekadar masalah kelebihan berat badan.

“Pemahaman medis tentang obesitas telah berkembang, berpindah dari sekadar faktor risiko menjadi sebuah penyakit kronis yang dapat memicu gangguan pada jantung dan sistem pembuluh darah,” ungkap Bobby.

➡️ Baca Juga: Trump Klaim India Mau Hapus Tarif Impor untuk Barang AS

➡️ Baca Juga: Bupati Situbondo Tegaskan Peran Vital Industri Tembakau bagi Masyarakat Lokal

Related Articles

Back to top button