2.365 Warga Masih Dipasung, Kesehatan Jiwa di Indonesia Memprihatinkan dengan 3 Juta Orang Depresi

Jakarta – Isu kesehatan jiwa di Indonesia telah menjadi perhatian yang mendesak. Hingga triwulan III tahun 2026, terdapat 2.365 individu yang masih mengalami pemasungan, sebuah praktik yang sangat memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa mereka yang terpasung adalah orang-orang dengan gangguan jiwa berat, seperti psikosis akut dan skizofrenia. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kesehatan mental di Indonesia masih memerlukan perhatian serius.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat perhatian terhadap kesehatan jiwa untuk dapat mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan kondisi ini.
Imran menyebutkan bahwa kasus depresi banyak ditemukan di kalangan usia muda. Di samping itu, stigma sosial yang mengelilingi kesehatan jiwa masih menjadi hambatan dalam penanganan, dan seringkali mendorong praktik pemasungan yang tidak manusiawi.
“Melalui penguatan layanan kesehatan primer dan edukasi kepada masyarakat, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap individu mendapatkan dukungan yang sesuai dan dapat berdaya sesuai dengan keunikannya masing-masing,” ujarnya pada Senin (12/10/2026).
Dia juga mengungkapkan dua tantangan utama dalam menangani individu neurodivergen, yaitu keterlambatan dalam deteksi kondisi dan penolakan dari orang tua terhadap diagnosis anak mereka.
Banyak orang tua yang enggan mengakui bahwa anak mereka adalah seorang neurodivergent, dan cenderung mencari pendapat kedua untuk memastikan bahwa anaknya tidak mengalami kondisi tersebut.
“Akibatnya, keterlambatan dalam pengenalan kondisi ini terjadi, dan ketika orang tua akhirnya menyadari, potensi yang ada pada anak biasanya sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi,” katanya.
Jutaan warga di Indonesia mengalami depresi, yang menjadi isu kesehatan jiwa yang tidak bisa diabaikan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menekankan bahwa kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah krusial dalam pembangunan nasional yang harus segera ditangani.
Data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa gangguan jiwa berada di urutan kedua sebagai penyebab utama hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.
Di sisi lain, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mengungkapkan bahwa prevalensi depresi di kalangan penduduk yang berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Ini setara dengan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang yang mengalami kondisi ini.
“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, hanya 12,7 persen yang menerima perawatan medis. Ini berarti sembilan dari sepuluh orang yang mengalami depresi belum mendapatkan akses ke layanan kesehatan. Beban tertinggi justru dialami oleh kelompok anak muda berusia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang.
Selain fokus pada depresi, Endang juga menekankan pentingnya perhatian terhadap individu neurodivergen, termasuk mereka yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan disleksia.
➡️ Baca Juga: Ulasan Singkat Stylus Pen Responsif untuk Tablet Digital yang Wajib Anda Ketahui
➡️ Baca Juga: Kemenparekraf Dukung Festival Budaya Lokal sebagai Daya Tarik Wisata




