Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali pada Senin Pagi, Letusan Mencapai 900 Meter di Atas Mahameru

Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Lumajang dan Malang di Jawa Timur, mengalami tiga kali letusan pada pagi hari Senin.
Abu vulkanik yang dihasilkan dari letusan tersebut terpantau mencapai ketinggian 900 meter di atas puncak Mahameru.
“Erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 06.19 WIB dengan tinggi kolom letusan yang teramati sekitar 900 meter di atas puncak, atau setara dengan 4.576 meter di atas permukaan laut,” ungkap Sigit Rian Alfian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan resmi yang diterima di Lumajang, pada hari yang sama.
Sigit menjelaskan bahwa kolom abu yang terlihat berwarna kelabu dengan intensitas yang cukup tebal dan arahnya mengarah ke barat daya.
Aktivitas erupsi ini juga terekam dengan baik oleh alat pemantau kegempaan yang terpasang di lokasi.
“Erupsi ini terdeteksi melalui seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 110 detik,” tambahnya.
Menurut catatan dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, letusan pertama terjadi pada pukul 01.45 WIB, meskipun visualisasi letusannya tidak dapat diamati.
Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 04.39 WIB dan sekali lagi pada 06.19 WIB, di mana masing-masing mencapai ketinggian letusan 900 meter di atas puncak.
Sigit menegaskan bahwa saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat di sekitar diimbau untuk mematuhi pedoman keselamatan dan menjauhi area yang mungkin terpengaruh oleh aktivitas vulkanik.
“Dilarang untuk melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena berisiko terkena perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak,” tegasnya.
Selain itu, masyarakat juga dilarang untuk beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat letusan.
Sigit juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area tersebut memiliki risiko tinggi terhadap lontaran batu pijar saat erupsi terjadi.
Masyarakat juga diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, dan lahar yang dapat terjadi di sepanjang sungai atau lembah yang bersumber dari puncak Semeru.
“Ini terutama berlaku di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi aliran lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujarnya.
➡️ Baca Juga: Ekspor Meningkat, Mendag Budi Yakin Neraca Perdagangan RI Akan Menguat
➡️ Baca Juga: Kolonel Budi Utomo Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi MBG, Tanggapan Mabes TNI Terungkap




