Prancis dan Jerman Bersatu Melawan Dominasi Industri Mobil China

Prancis dan Jerman telah sepakat untuk mendorong kebijakan “Made in Europe” sebagai upaya memperkuat industri otomotif Eropa, terutama di tengah meningkatnya pengaruh produsen mobil asal China. Usulan ini mencakup penetapan persyaratan produksi lokal dan penyesuaian target emisi kendaraan yang direncanakan untuk diterapkan pada tahun 2035.
Namun, rencana ini masih memerlukan dukungan yang lebih luas dari negara-negara anggota Uni Eropa agar dapat diimplementasikan secara efektif. Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada kesepakatan di antara berbagai negara anggota yang memiliki kepentingan dan prioritas yang berbeda.
Langkah ini diambil seiring dengan semakin agresifnya merek-merek otomotif China dalam memasuki pasar Eropa. Setelah berhasil memperluas penjualan mobil listrik di segmen yang lebih terjangkau, kini beberapa produsen mulai menargetkan pasar kelas premium yang selama ini didominasi oleh merek Eropa.
Pada acara Paris Motor Show 2026, sejumlah merek asal China memamerkan kendaraan listrik yang dilengkapi teknologi canggih, termasuk bantuan pengemudi, pengisian daya yang cepat, serta berbagai fitur kenyamanan yang dirancang untuk bersaing dengan mobil-mobil premium Eropa.
Prancis dan Jerman ingin memperkuat produksi lokal melalui kebijakan “Made in Europe”. Mereka berencana mengaitkan dukungan pemerintah dan keuntungan dalam pengadaan publik dengan persyaratan manufaktur lokal serta pengelolaan rantai pasok yang lebih baik.
Sektor otomotif diharapkan masuk dalam kerangka kebijakan ini, dengan cakupan yang melibatkan semua 27 negara anggota Uni Eropa. Beberapa mitra Eropa di luar blok tersebut, seperti Inggris, juga dapat terlibat dengan memenuhi syarat tertentu yang ditetapkan.
Sebagai contoh, Inggris harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan kesetaraan kebijakan dan keselarasan dengan aturan investasi serta perlindungan perdagangan yang berlaku di Uni Eropa.
Meski memiliki tujuan yang sejalan, Prancis dan Jerman memiliki perbedaan pandangan terkait cakupan produksi lokal. Prancis cenderung menginginkan pembatasan pada produk yang diproduksi di dalam Uni Eropa, sementara Jerman mendorong definisi yang lebih inklusif yang mencakup mitra dagang dengan hubungan industri yang erat.
Perbedaan pandangan ini menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi sebelum kebijakan dapat diterapkan secara luas di seluruh Eropa.
Selain berupaya memperkuat manufaktur lokal, kedua negara juga mengusulkan perubahan terhadap rencana pengurangan emisi kendaraan di Uni Eropa yang ditargetkan pada tahun 2035.
Dalam proposal yang diajukan oleh Komisi Eropa, produsen mobil diharuskan mengurangi emisi karbon dioksida hingga 90 persen dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2021. Sisa emisi yang menuju target 100 persen akan diimbangi melalui berbagai langkah, termasuk penggunaan baja rendah karbon dan bahan bakar alternatif.
➡️ Baca Juga: Drone Asing Jatuhkan Bahan Berbahaya di Kedubes Israel London, Pengamanan Diperketat
➡️ Baca Juga: 5 Keutamaan Memperkuat Silaturahmi di Bulan Ramadhan beserta Tips Praktisnya




