Rusia Berencana Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Negara Tetangga Indonesia

Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin mengumumkan bahwa Moskow telah mulai melaksanakan perjanjian untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berskala kecil di Myanmar. Proyek ini merupakan langkah penting dalam memperkuat hubungan bilateral antara Rusia dan Myanmar.
Dalam pertemuan dengan Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, yang berlangsung di ibu kota Rusia, Mishustin menekankan bahwa proyek ini akan membuka peluang untuk kerja sama di berbagai bidang, termasuk penelitian ilmiah dasar dan terapan. Hal ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk saling mendukung dalam pengembangan teknologi dan inovasi.
Mishustin menggarisbawahi bahwa inisiatif ini akan menjadi “simbol baru persahabatan Rusia-Myanmar.” Kedua negara telah menandatangani perjanjian antarpemerintah pada Maret 2025 yang mengatur kerjasama dalam pembangunan PLTN berskala kecil, yang diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi dan strategis di kawasan.
Pembangkit listrik tenaga nuklir ini akan memanfaatkan teknologi Rusia dan direncanakan memiliki kapasitas awal sebesar 110 megawatt (MW), dengan kemungkinan untuk melakukan ekspansi di masa depan. Menteri Mishustin optimis bahwa proyek ini akan memberikan dorongan baru bagi kerjasama kedua negara di luar sektor energi, mengarah ke kolaborasi yang lebih luas dalam berbagai proyek.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Rusia siap berkontribusi dalam proyek eksplorasi dan produksi hidrokarbon di Indonesia, negara tetangga Myanmar. Hal ini menunjukkan minat Rusia untuk terlibat lebih dalam dalam sektor energi Indonesia yang sedang berkembang.
Putin juga menambahkan bahwa kedua negara sedang mempertimbangkan proyek pembangunan bersama, termasuk pembangkit listrik dan kilang minyak di wilayah selatan Myanmar. Ia menekankan bahwa sektor energi merupakan inti dari kerja sama bilateral yang semakin erat antara Rusia dan Myanmar.
Di samping itu, Putin menyatakan bahwa ada potensi besar untuk mengatur ekspor gas alam cair dari Myanmar. Gas ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berfungsi sebagai pasokan transit ke negara-negara tetangga, memperkuat posisi Myanmar sebagai pusat energi di kawasan.
Presiden Rusia juga mengungkapkan bahwa kedua negara sedang mengerjakan beberapa proyek besar dan telah menandatangani berbagai perjanjian antarpemerintah serta komersial. Kerja sama ekonomi menjadi salah satu prioritas utama dalam hubungan bilateral yang semakin berkembang ini.
Lebih lanjut, Putin menyebutkan bahwa Moskow dan Naypyidaw juga tengah membahas rencana pembangunan pelabuhan laut dalam di pesisir selatan Myanmar. Pelabuhan ini diharapkan mampu menampung kapal-kapal berukuran besar, yang penting untuk mendukung perdagangan dan ekspor barang ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Putin juga menekankan pentingnya kerjasama di bidang militer dan teknis antara Rusia dan Myanmar. Latihan angkatan laut bilateral sering dilakukan di perairan lepas pantai Myanmar, dan kapal-kapal angkatan laut Rusia telah melakukan kunjungan rutin ke pelabuhan-pelabuhan di negara tersebut, menunjukkan kedekatan strategis antara kedua negara.
➡️ Baca Juga: Peran Cryptocurrency dalam Mempercepat Proses Pengiriman Uang Antar Negara Secara Instan
➡️ Baca Juga: Susunan Pemain Barcelona vs Newcastle di Liga Champions: Lewandowski dan Yamal Siap Tampil Maksimal




