Abu Vulkanik Sebabkan Motor Selip, Ini yang Harus Diperhatikan Pengendara

Sebaran abu vulkanik yang muncul akibat letusan Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian serius bagi para pengendara sepeda motor. Dampaknya tidak hanya mengganggu kualitas udara dan jarak pandang, tetapi juga menimbulkan risiko tinggi kecelakaan akibat permukaan jalan yang menjadi licin ketika tertutup abu.
Keadaan ini menjadi semakin mengkhawatirkan bagi pengendara motor, mengingat kendaraan roda dua lebih rentan terhadap perubahan kondisi jalan. Ketika abu menumpuk di permukaan jalan, daya cengkeram ban pada aspal dapat berkurang secara drastis, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Menurut Jusri Pulubuhu, seorang praktisi keselamatan berkendara dan Kepala Instruktur di Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), abu vulkanik harus dianggap sebagai ancaman serius ketika berkendara. Ia menekankan pentingnya kesadaran akan bahaya ini bagi setiap pengendara.
“Ketika abu vulkanik menutupi jalan, ia berfungsi layaknya lapisan pasir halus yang membuat grip ban berkurang secara signifikan. Ini menyebabkan kendaraan lebih mudah tergelincir, terutama saat pengendara melakukan pengereman mendadak atau berbelok,” ungkap Jusri.
Adanya lapisan abu di jalan dapat mengurangi traksi ban. Hal ini berpotensi menjadi sangat berbahaya ketika pengendara harus menghentikan kendaraan secara tiba-tiba, mempercepat laju motor, atau berbelok dengan sudut yang tajam.
Risiko kehilangan traksi ini lebih tinggi pada sepeda motor, di mana area kontak ban dengan jalan jauh lebih kecil dibandingkan dengan kendaraan roda empat. Dengan demikian, perubahan kondisi jalan akibat abu vulkanik bisa langsung berdampak pada stabilitas sepeda motor.
Oleh karena itu, pengendara perlu menyadari bahwa kondisi jalan yang tertutup abu vulkanik sangat berbeda dari jalan aspal dalam keadaan normal. Penting untuk tidak meremehkan bahaya yang dihadirkan oleh abu vulkanik.
Ancaman dari abu vulkanik tidak hanya terbatas pada kondisi permukaan jalan. Partikel-partikel halus yang beterbangan dapat masuk ke dalam helm dan menghalangi penglihatan pengendara, yang tentunya berbahaya saat berkendara.
Di samping itu, menghirup abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan. Pengendara yang tetap melanjutkan perjalanan dalam kondisi dengan konsentrasi abu yang tinggi berisiko terpapar lebih banyak partikel berbahaya.
Penggunaan masker atau respirator yang tepat, serta pelindung mata, merupakan langkah yang sangat dianjurkan apabila perjalanan tidak dapat ditunda. Ini penting untuk mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh abu vulkanik.
Jusri menyarankan agar pengendara tidak memaksakan diri untuk berkendara jika kondisi jalan sudah terlampau tertutup abu vulkanik, yang mengubah tampilan maupun tekstur permukaan jalan secara signifikan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di setiap perjalanan.
➡️ Baca Juga: Kegiatan Sosial di Panti Jompo: Meningkatkan Kepedulian
➡️ Baca Juga: Ujian Nasional Kembali dengan Skema Baru 2025: Simak Perubahannya




