Miss Tionghoa Indonesia 2026 Digelar Kemenbud untuk Lindungi Budaya Nasional dari Pengaruh Asing

Miss Tionghoa Indonesia kembali hadir untuk edisi ketiganya, diselenggarakan di Hotel Aryaduta Jakarta. Acara ini tidak hanya menampilkan berbagai talenta mulai dari anak-anak hingga dewasa, tetapi juga memberikan penghargaan kepada tujuh wanita Tionghoa yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan bangsa ini.
Putri Woelan Sari Dewi, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, menyampaikan rasa terima kasihnya atas penyelenggaraan Miss Tionghoa Indonesia 2026. Ia menilai bahwa acara ini memiliki dampak positif bagi generasi mendatang.
“Acara ini sangat penting untuk mendapatkan pengakuan, sehingga seluruh kebudayaan dapat bersatu sebagai perisai bangsa. Saat ini, kita dihadapkan pada banyak pengaruh budaya asing, dan kita perlu membangun benteng melalui kebudayaan kita sendiri,” jelas Putri saat berbicara kepada media pada malam final Miss Tionghoa Indonesia 2026 di Aryaduta Jakarta, yang diliput pada Senin, 5 Oktober 2026.
Ia juga menekankan bahwa Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan komunitas yang memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat berlanjut di masa depan.
“Dari Kementerian Kebudayaan, kami berharap acara serupa dapat menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan dan kemajuan di masa depan, melalui pelestarian budaya yang telah kita miliki,” tuturnya.
Cheryl Tanzil, Tenaga Profesional di KSP, juga menunjukkan dukungannya terhadap Miss Tionghoa Indonesia 2026. Selain itu, ia mengungkapkan rasa terkejutnya karena terpilih sebagai salah satu penerima Anugerah Citra Perempuan Indonesia 2026.
“Saya merasa kita sangat membutuhkan ruang-ruang seperti ini. Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, bangsa, dan budaya. Justru inilah yang menjadi kekuatan kita. Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat beragam,” ungkapnya.
Cheryl mengenang pengalamannya tinggal di kawasan Betawi di Jakarta pada tahun 1998, di mana tetangga dari berbagai suku berperan penting dalam melindungi keluarganya.
“Dari Betawi hingga Jawa, para pria di lingkungan kami berpatroli untuk menjaga keamanan. Saya merasa sebagai bagian dari keturunan tersebut tidak mengalami perbedaan, malah mendapat perlindungan. Oleh karena itu, acara seperti ini, apalagi didukung oleh Kementerian Kebudayaan, menunjukkan bahwa Indonesia telah berkembang pesat. Negara kita pasti akan semakin kuat,” tegasnya.
➡️ Baca Juga: Pelatih Real Madrid Ungkap Alasan Rodri Tidak Bergabung dengan Los Blancos
➡️ Baca Juga: Drone Asing Jatuhkan Bahan Berbahaya di Kedubes Israel London, Pengamanan Diperketat




