pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
lifestyle

Pengamat Musik Ungkap Fakta Terkait Polemik Lagu Mahalini dan Anggis Devaki

Mahalini kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar musik setelah terjadi polemik dengan Anggis Devaki mengenai lagu berjudul “Percuma.” Lagu ini sebelumnya ditulis oleh Mahalini dan diserahkan kepada Anggis untuk dinyanyikan serta dirilis ke publik.

Sekitar setahun setelah versi Anggis dirilis, Mahalini memutuskan untuk menghadirkan versi solonya dari lagu tersebut. Keputusan ini diambil sebagai respon terhadap permintaan dari penggemar yang menginginkan agar ia menyanyikannya. Namun, langkah ini justru memicu berbagai reaksi dan komentar dari netizen.

Banyak netizen berpendapat bahwa tindakan Mahalini tampak seperti upaya untuk bersaing dengan Anggis, mengingat lagu tersebut telah dikenal luas melalui penyanyi lain. Beberapa di antara mereka juga mempertanyakan mengapa Mahalini merilis versi solonya begitu dekat dengan waktu rilisnya Anggis.

Di tengah diskusi yang hangat ini, Wendi Putranto, seorang pengamat musik sekaligus manajer dari band Seringai, memberikan pandangannya terkait polemik yang melibatkan lagu “Percuma.” Ia menjelaskan perspektifnya terhadap situasi yang terjadi antara kedua penyanyi tersebut.

Wendi menekankan bahwa keputusan Mahalini untuk merilis kembali lagu tersebut tidak melanggar ketentuan yang berlaku dalam industri musik. Menurutnya, sebelum meluncurkan versi solonya, Mahalini telah menunggu hingga masa lisensi atau kontrak rekaman lagu dengan Anggis Devaki berakhir.

“Menurut pandangan saya, langkah Mahalini adalah langkah yang tepat. Meskipun ia merupakan salah satu pencipta lagu tersebut, ia tetap menunggu hingga kontrak rekaman dengan Anggis dan Bertrand selesai. Ketika lisensi penggunaan lagu dengan Anggis berakhir, hak kontrol penuh atas lagu tersebut kembali kepada penciptanya,” ungkap Wendi melalui pesan singkat pada Selasa, 2 September 2026.

Lebih lanjut, Wendi menjelaskan bahwa Mahalini berhak untuk menggunakan kembali lagu tersebut setelah masa lisensi yang diberikan kepada pihak lain telah berakhir.

“Tentu saja, ia memiliki hak untuk menggunakan lagunya kapan saja setelah lisensi yang diberikan kepada orang lain berakhir. Mahalini adalah pemilik hak cipta atas komposisi yang ditulisnya bersama Kamga dan Martinus. Ia memiliki hak eksklusif terkait ciptaannya, baik dari segi hak moral maupun hak ekonominya,” tambahnya.

Satu pertanyaan lain yang muncul adalah apakah lagu “Percuma” berpotensi menjadi lebih sukses ketika dinyanyikan langsung oleh Mahalini sebagai salah satu penciptanya.

Wendi melihat bahwa peluang tersebut tetap ada. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak ada yang dapat memastikan sebuah lagu akan menjadi hit hanya berdasarkan siapa yang menyanyikannya.

➡️ Baca Juga: APBN 2025 Sebagai Penyangga Ekonomi untuk Lindungi Masyarakat dari Guncangan

➡️ Baca Juga: Putri KW Targetkan Podium di BAC 2026 dengan Keyakinan Melihat Bagan Kompetisi

Related Articles

Back to top button