Titik Panas Karhutla Kalbar Capai 2.610, BNPB Tingkatkan Operasi Modifikasi Cuaca

Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) kembali menjadi sorotan utama setelah terdeteksinya lebih dari 2.610 titik panas. Lonjakan angka ini menunjukkan bahwa situasi karhutla sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan yang cepat dan efektif.
Dalam menghadapi kondisi ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan upaya operasional melalui modifikasi cuaca (OMC). Langkah ini diambil untuk membantu meredakan penyebaran api yang semakin meluas.
BNPB memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Kalbar dengan melakukan penyemaian bahan tertentu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efektivitas turunnya hujan di daerah yang sangat membutuhkan penanganan terkait karhutla.
Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menjelaskan bahwa keberadaan awan yang memiliki potensi untuk hujan dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pemadaman titik api dan titik panas yang terdeteksi.
“BNPB siap melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai bahan tertentu guna meningkatkan potensi hujan di wilayah Kalimantan Barat,” ungkapnya di Jakarta pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Operasi ini telah dimulai sejak Selasa, 25 Agustus 2026. Satuan tugas udara yang didukung oleh BNPB telah melaksanakan dua penerbangan untuk menyemai 2.000 kilogram garam (NaCl) di area yang terdampak.
Penyemaian tersebut dilakukan di wilayah Kabupaten Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Dengan cara ini, diharapkan hujan dapat turun secara optimal dan membantu memadamkan api.
Operasi modifikasi cuaca berlanjut pada Rabu, 26 Agustus 2026. Pusat Pengendalian Operasi BNPB mengerahkan satu penerbangan menggunakan pesawat Cassa TNI AU dari Lanud Supadio, Pontianak.
Penerbangan ini difokuskan pada wilayah Kabupaten Bengkayang dan Sambas. Kolaborasi ini melibatkan BNPB, Kementerian Pertahanan, BMKG, dan TNI AU untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla.
Langkah percepatan pemadaman api ini diambil setelah Posko Penanganan Bencana Asap Kalbar mencatat adanya lonjakan signifikan pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Tercatat lebih dari 2.610 titik panas, di mana 86 di antaranya memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 2.447 titik dengan tingkat kepercayaan menengah, dan 77 titik tergolong rendah.
Kondisi karhutla ini mulai berdampak pada kualitas udara di sekitarnya. Beberapa wilayah bahkan masuk dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
BNPB menginformasikan bahwa wilayah Jongkat dan Sungai Tebelian berada dalam kategori tidak sehat, sementara Sungai Raya tercatat dalam kategori sangat tidak sehat.
Sejak awal tahun 2026, karhutla telah menyebabkan kebakaran lahan dalam jumlah yang signifikan. Secara kumulatif, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 38.310,89 hektare, menyoroti urgensi penanganan yang lebih efektif.
➡️ Baca Juga: Perubahan Urine Bisa Jadi Tanda Ginjal Bermasalah, Kenali Bedanya
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Mengurangi Kebiasaan Mengeluh dan Beralih Mencari Solusi yang Praktis




