www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

depo 10k depo 10k
lifestyle

Mengapa Abu Vulkanik Dapat Mengakibatkan Kehilangan Daya pada Pesawat?

Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya mempengaruhi kawasan sekitarnya, tetapi juga menjadi isu kritis dalam dunia penerbangan internasional. Abu vulkanik yang terangkat ke atmosfer dapat menyebar ke jalur penerbangan, berpotensi mengancam keselamatan pesawat. Akibatnya, sejumlah bandara di Indonesia terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terjadi pada Jumat, 4 September 2026, tepatnya pada pukul 23.23 WIB. Menurut catatan dari BMKG, abu vulkanik yang dihasilkan mampu menjulang hingga ketinggian 20.000 kaki dan menyebar ke berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Di ketinggian yang lebih tinggi, hingga 50.000 kaki, abu vulkanik juga terdeteksi bergerak menuju Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Ketika pesawat melintas di area yang dipenuhi abu, partikel tersebut dapat masuk ke dalam mesin dan menyebabkan berbagai masalah teknis.

Salah satu risiko yang paling serius adalah kemungkinan mesin kehilangan daya atau bahkan mati. Ketika partikel abu ini masuk ke dalam mesin, suhu tinggi di ruang pembakaran dapat melelehkan material tersebut. Akibatnya, abu dapat menempel di bagian mesin dan mengganggu aliran udara serta proses pembakaran yang optimal.

Kandungan abrasif dari abu vulkanik juga menjadi perhatian. Partikel-partikel ini dapat mengikis komponen pesawat yang terkena secara langsung, yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik.

Dampak dari masalah yang ditimbulkan oleh abu vulkanik ini antara lain:

– Kerusakan pada mesin pesawat

– Penurunan performa aerodinamis

– Gangguan sistem navigasi dan komunikasi

– Biaya perbaikan yang signifikan

– Potensi penundaan dan pembatalan penerbangan

Oleh karena itu, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan tidak bisa diremehkan, mengingat risikonya yang sangat besar.

Bahaya yang ditimbulkan oleh abu vulkanik terhadap pesawat bukanlah sekadar teori. Salah satu insiden yang memberikan pelajaran berharga bagi industri penerbangan terjadi setelah erupsi Gunung Galunggung di Tasikmalaya pada tahun 1982.

Pada tanggal 24 Juni 1982, pesawat British Airways B747 yang sedang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Perth mengalami kehilangan daya pada keempat mesinnya ketika berada pada ketinggian sekitar 11.300 meter.

➡️ Baca Juga: Serangan Udara AS Targetkan Kapal Induk Drone Iran Shahid Bagheri dengan Akurat

➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Tim Olahraga Desember untuk Menghadapi Tekanan Lawan Kuat Nasional

Related Articles

Back to top button