Pola modern pendekatan analisa terarah slot

Metode premium slot online untuk hasil stabil

Strategi terarah slot online untuk hasil optimal

Analisa kinerja pola modern slot online

Teknik unggulan analisa pola harian slot

Strategi rahasia slot online untuk performa optimal

Strategi maksimal analisa terkini slot online

Teknik unggulan slot online untuk kinerja

depo 10k depo 10k
berita

Transformasi Pelabuhan Internasional RI: Dari Status Based ke Performed Based untuk Optimalisasi Kinerja

Jakarta – Indonesia memiliki peranan penting dalam peta perdagangan global, namun keberadaan sejumlah pelabuhan internasional di tanah air belum sepenuhnya mencerminkan efektivitas sistem pelabuhan yang ada.

Robby Kurniawan, yang merupakan anggota Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) serta Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), menekankan perlunya perubahan dalam pengelolaan pelabuhan internasional. Ia menyarankan agar pendekatan yang digunakan beralih dari sistem berbasis status administratif (status-based) menuju pendekatan yang lebih fokus pada fungsi dan kinerja (performance-based).

Data yang ada menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara jumlah pelabuhan yang memiliki status internasional dan kinerja nyata yang ditunjukkan.

Dari total 144 pelabuhan yang berstatus internasional, pada tahun 2025 hanya 73 pelabuhan, atau sekitar 50,69 persen, yang aktif dalam kegiatan ekspor. Sementara itu, hanya 63 pelabuhan, yang setara dengan 43,75 persen, yang terlibat dalam kegiatan impor, ungkap Robby dalam pernyataannya pada Rabu, 2 September 2026.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan internasional Indonesia masih terfokus pada sejumlah pelabuhan utama, yang mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara status administratif, fungsi sesungguhnya, konektivitas, dan kinerja pelabuhan-pelabuhan tersebut.

Berdasarkan temuan ini, Robby menjelaskan bahwa hasil dari diskusi kelompok terfokus (FGD) dan penelitian merekomendasikan penerapan Integrated International Port Effectiveness Model (IIPEM).

Model ini dirancang untuk melihat pelabuhan internasional sebagai bagian dari sistem jaringan pelabuhan nasional yang saling terintegrasi, dengan fokus pada fungsi dan kinerja daripada sekadar status.

Melalui pendekatan IIPEM, kita diharapkan tidak hanya bertanya tentang jumlah pelabuhan internasional yang dimiliki, tetapi juga fungsi apa yang perlu dilaksanakan oleh setiap pelabuhan, seberapa efektif pelaksanaan fungsi tersebut, serta kontribusinya terhadap jaringan perdagangan di tingkat nasional, jelasnya.

Robby menjelaskan bahwa IIPEM dibangun dengan enam kapabilitas strategis. Pertama adalah Governance Pelabuhan Strategis, yang mencakup aspek regulasi, kelembagaan, koordinasi, serta tata kelola yang berfokus pada kinerja.

Kedua, Maritime Connectivity, yang mencakup aspek seperti direct call, jaringan pelayaran, frekuensi layanan, dan integrasi koridor maritim.

Ketiga, Hinterland & Economic Integration, yang menekankan pentingnya keterhubungan pelabuhan dengan kawasan industri, kawasan ekonomi, sistem multimoda, serta basis muatan atau cargo base.

Keempat, Operational Efficiency, yang meliputi produktivitas, tingkat pemanfaatan, waktu pelayanan, biaya, serta keandalan operasional.

Kelima, International Trade Facilitation, yang mencakup CIQP (Customs, Immigration, Quarantine and Port Health), sistem single submission, manajemen risiko, serta integrasi data.

➡️ Baca Juga: Peran Adopsi Pengguna dalam Meningkatkan Nilai Jangka Panjang Cryptocurrency

➡️ Baca Juga: Jangan Coba-coba Menangkap Ular Piton Sendirian

Related Articles

Back to top button